Wahai engkau yang baik hatinya... Aku tidak tahu apa yang saat ini engkau rasakan. Aku tidak tahu apa yang saat ini engkau dambakan. Aku pun tidak tahu apa yang saat ini engkau lakukan. Wahai engkau yang baik hatinya... aku ingin engkau selalu berbahagia. Aku ingin engkau selalu tersenyum dan aku pun ingin engkau mendapatkan apa yang engkau inginkan. Wahai engkau yang baik hatinya..., aku merasa tenang bila disampingmu. Aku merasa girang bila menyapamu, dan aku merasa tidak membutuhkan apapun selain dirimu. Wahai engkau yang baik hatinya..., aku bersyukur telah mengenalmu. Wahai engkau yang baik hatinya..., aku merasa bahwa engkaulah tulang rusuk kiriku. Aku merasa bahwa engkaulah Fatimah azahraku, engkaulah permaisuriku, dan engkaulah harta terbaik bagiku. Kalau pun engkau bukan semuanya yang kusebut itu, aku tidak peduli. Bagiku engkau tetap seseorang yang baik hatinya...
Wahai engkau yang baik hatinya..., jangan engkau tampak di waktu malam. Sinar rembulan akan kalah terang dari sinarmu. Jangan engkau berlarian di redanya hujan. Pelangi menawan pun akan takjub melihat pesonamu. Janganlah engkau bersenandung di pagi hari. Mentari pagi akan malu mengeluarkan pesonanya. Wahai engaku yang baik hatinya..., aku tahu engkau di puja. Aku tahu engkau di damba dan aku pun tahu engkau di cinta. Wahai engkau yang baik hatinya..., ijinkan aku sekedar mencintaimu. Ijinkan aku bisa memikirkanmu, dan ijinkan aku tuk dapat menyayangimu. Wahai engkau yang baik hatinya..., aku tahu aku tidak pantas bersanding untukmu. Bahkan aku tahu tidak pantas berkata I luv u. aku pun juga tahu aku tidak bisa memberimu kehidupan yang layak. Bahkan untuk makan saja penghasilanku belum tentu cukup. Aku tahu aku belum punya rumah yang dapat menungimu dari dingin yang menggigit dan panas yang menyengat. Aku tahu aku tidak punya mobil yang bisa melindungimu dari kepulan asap dan menjaga kecantikanmu.
Wahai engkau yang biak hatinya..., walaupun penghasilanku pas-pasan, aku akan berusaha keras mencukupi kebutuhanmu. Aku akan berusaha keras mewujudkan apapun keinginanmu. Aku akan berusaha keras menjadikan senyummu tetap berkembang. Aku pun akan berusaha keras memberikan kebahagiaan untukmu. Wahai engkau yang baik hatinya..., aku tahu aku belum punya rumah, tapi aku akan berusaha agar engkau tetap terlindung dari dingin. Aku akan berusaha agar engkau tetap terhindar dari panas. Aku akan berusaha dengan keras agar kulitmu yang indah tidak tersentuh oleh air hujan yang menusuk. Aku un akan berusaha keras agar engkau tidak menggigil oleh belaian angin malam yang menusuk. Wahai engkau yang baik hatinya..., aku tahu aku belum punya mobil yang bisa membawamu kemana-mana tanpa kehujanan, tapi wahai engkau yang baik hatinya.... Aku akan memberikanmu bermacam-macam mobil dengan bermacam-macam sopir. Tidak hanya mobil kecil, tetapi mobil besar juga. Tidak hanya antar kota, bahkan antar propinsi juga. Kita tidak perlu memikirkan jalur, tidak perlu memikirkan kemacetan bahkan tidak perlu memikirkan kapan harus membuka pedal gas ataupun menginjak rem.
Wahai engkau yang baik hatinya..., Aku hanyalah orang biasa yang bermimpi menjadi orang yang luar biasa. Aku hanyalah orang biasa yang bermimpi bersanding dengan orang yang luar biasa. Aku hanyalah orang biasa yang bermimpi membagi kebahagiaan dengan orang luar biasa. Wahai engkau yang baik hatinya..., andaikan engkau mau membagi semuanya denganku. Andaikan engkau mau mengarungi semuanya denganku dan andaikan engkau mau menghadapi semuanya denganku. Wahai engaku yang baik hatinya..., bagiku, engkau sudah cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar