Desiran kipas menemani si tahu segalanya malam ini…sepi. Dikala semua tertidur, ke peraduan, si tahu segalanya sibuk dengan FBnya mencari seseorang. Sekedar berharap seseorang itu Online. Ato hanya ingin melihat photonya saja. Menyimpan photonya??? Ga berani si tahu segalanya berpikir sejauh itu… menjadi orang bebal kadang lebih bagus daripada tahu segalanya. Ketika seseorang itu ada untuk disapa, si tahu segalanya menganggap bahwa dia taidak mau disapa…ketiga seseorang itu ada untuk dimanja…si tahu segalanya mengira dia tidak butuh dimanja. Serta ketika seseorang itu ada untuk dipuja…si tahu segalanya mengira bahwa dia tidak pantas memuja. Parahnya ketika seseorang itu ada untuk dicinta.. si tahu segalanya ini malah berteriak saya tidak pantas untuknya….
Entah apa yang terjadi pada si tahu segalanya. Dia menganggap seseorang ini akan menyakiti dirinya. Dia menganggap seseorang itu tidak butuh dirinya. Dia menganggap seseorang itu terlalu hebat untuknya. Serta dia menganggap seseorang ini tidak peduli padanya.
Ketika si tahu segalanya ini tidak pernah mengutarakan apa yang dia ketahui… seseorang ini pun tidak akan pernah tahu apa yang si tahu segalanya ini ketahui. Si tahu segalanya terlalu sibuk menebak dan membaca gerak tubuh. Si tahu segalanya terlalu sibuk dengan kata andai. Si tahu segalanya terlalu sibuk dengan kata jika. Dan si tahu segalanya terlalu terlalu bernafsu dengan kata mungkin.
Andai si tahu segalanya tidak berandai-andai. Jika si tahu segalanya tidak bermain dengan “jika”. Mungkin si tahu segalanya ini menganggap dia yang paling tahu segalanya. Akankah si tahu segalanya ini menceritakan apa yang dia ketahui ke seseorang itu??? Haruskah si tahu segalanya ini mengungkapkan apa yang dia ketahui ke seseorang itu??? Menurutku si tahu segalanya ini satu-satu nya orang yang tidak tahu segalanya. Satu-satunya orang yang tidak tahu apa yang ingin di ketahui sesorang kepadanya.