Masih asyik aku dan temen lantai 1 nonton avatar book the firebinder. Terdengar suara dari lantai 2 mengajak ngumpul buat acara halal bihalal. Suaranya agak tidak jelas di telingaku, tapi kupaksa juga mendengarnya. Yang jelas ada yang nyeletuk, mana kambing gulingnya?seketika itu pula gairah untuk halal bihalalku langsung muncul. Aku ambil sepatuku, katanya makan ga boleh pake sandal (yaiyalah kalo pake sandal kan bau). Aku mendongak ke atas sebentar terlihat semua sudah khidmat mendengar ceramah dan bacaan alquran yang aku tidak tahu artinya (maafkan aku ya ALLAH, hambamu ini terlalu banyak lalai dengan kesenangan…)
Kunaiki tangga ke lantai 2. Ada banayk yang berkumpul sih di situ, merangsek masuk ke kerumunan. Di sepanku sudak ada beberapap piring kecil dengan lontong dan daging kambing (kambing guling nih) pikirku. Setelah moderatornya cuap2, kami berkeliling untuk salam2an. Sampai di depan kambing itu pas, ternyata pada nggak melanjutkan salamannya. Mereka pada berebut mengambil jatah kambing. Aku juga DULUAN!!! Enyak2, emang kalo gratis dan banyak itu nikmat. Masya ALLAH. Setelah dua babak menghajar kambing, di lanjutkan dengan es doger dan makan nasi…sbagai penutup tidak lupa pula mengembat buah2an. Ups, maaf lagi ya ALLAH, hambamu khilaf tidak berdoa tadi.
Untuk semua pegawai, kasi, kepala kantor KPP Pratama Pancoran dan seluruh muslimin wal muslimat dimanapun berada. saya percaya bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, oleh karena itu saya berharap bisa mendapatkan banyak berkah agar dengan berkah itu bisa menguraikan dosa-dosaku yang bagai pasir, bisa mengubah sifat buruku, bisa memberikan ketengan pada hatiku, serta bisa memperbaiki akhlaku.Saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf yang sebesar besarnya, lahir maupun batin.
Jumat, 29 Agustus 2008
Doa di Bulan Ramadhan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Allah subhaanahu wa ta’aala berjanji untuk mengabulkan doa siapapun asalkan memenuhi tiga syarat:
(1) Memohon hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, bukan selainNya.
(2) Memenuhi segala perintahNya dan
(3) Beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai Rabb yang Maha Kuasa mengabulkan permintaan dan menetapkan taqdir segalanya.
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah ayat 186)
Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana orang beriman mempunyai kesempatan begitu luas untuk berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan waktu-waktu mustajab (saat doa berpeluang besar dikabulkan Allah) tersebar dalam beberapa momen khusus sepanjang Ramadhan.
“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2) imam yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi 3522)
Subhanallah…! Dalam hal berdoa orang berpuasa disetarakan dengan pemimpin yang adil dan orang terzalimi. Doa orang berpuasa mustajab. Didengar, tidak ditolak Allah subhaanahu wa ta’aala. Bahkan dikabulkan insyaAllah. Setiap orang yang faham hadits ini sangat bergembira menyambut Ramadhan. Sebab itu berarti selama 29 atau 30 hari selama ia berpuasa peluang doanya dikabulkan Allah subhaanahu wa ta’aala sangatlah luas…!
(1) Memohon hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, bukan selainNya.
(2) Memenuhi segala perintahNya dan
(3) Beriman kepada Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai Rabb yang Maha Kuasa mengabulkan permintaan dan menetapkan taqdir segalanya.
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah ayat 186)
Bulan Ramadhan merupakan bulan di mana orang beriman mempunyai kesempatan begitu luas untuk berdoa kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Dan waktu-waktu mustajab (saat doa berpeluang besar dikabulkan Allah) tersebar dalam beberapa momen khusus sepanjang Ramadhan.
“Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2) imam yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi 3522)
Subhanallah…! Dalam hal berdoa orang berpuasa disetarakan dengan pemimpin yang adil dan orang terzalimi. Doa orang berpuasa mustajab. Didengar, tidak ditolak Allah subhaanahu wa ta’aala. Bahkan dikabulkan insyaAllah. Setiap orang yang faham hadits ini sangat bergembira menyambut Ramadhan. Sebab itu berarti selama 29 atau 30 hari selama ia berpuasa peluang doanya dikabulkan Allah subhaanahu wa ta’aala sangatlah luas…!
Dan terlebih lagi saat menjelang berbuka ketika menanti tibanya azan Magrib. Kita harus memanfaatkan waktu sebaiknya untuk berdoa saat itu. Maka, saudaraku, manfaatkan kesempatan emas menjelang berbuka dengan mengajukan berbagai permintaan kepada Allah ta'aala. Sebab sebagian masyarakat kita malah menghabiskan waktu dengan ngobrol tidak karuan menjelang magrib di bulan Ramadhan. Padahal coba perhatikan hadits berikut:
“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka.” (HR Ibnu Majah 1743)
Lalu apakah lafal khususNabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelang ifthor berbuka puasa? Beliau membaca sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini:
“Jika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam berbuka, ia berdoa: Dhahabazh-zhoma-u wab tallatil-'uruq wa tsabbatal-ajru insyaa Allah “Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.” (HR Abu Dawud 2010)
Mengapa di dalam doa berbuka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan: ”...dan semoga ganjaran didapatkan, insya Allah.”?
Karena sesungguhnya yang sangat diharapkan bukan semata kegembiraan pertama sewaktu berbuka di dunia, melainkan yang lebih diharapkan orang beriman ialah kegembiraan kedua yaitu saat bertemu Allah ta’aala di hari berbangkit kelak. Orang beriman ketika itu bergembira berjumpa Allah ta’aala karena puasanya sewaktu di dunia diterima olehNya. Demikianlah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda dalam hadits sebagai berikut:
“Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat kelak perjumpaannya dengan Allah ta’aala karena ibadah puasanya.” (HR Bukhary 1771)
Hidup manusia di dunia adalah pergantian antara susah dan senang. Maka selama bulan Ramadhan khususnya, marilah kita membaca yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam biasa baca ketika menghadapi keadaan susah maupun menerima karunia. Untuk mengantisipasi kesusahan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam melazimkan kalimat istighfar sebagaimana hadits berikut:
“Barangsiapa yang tetap melakukan istighfar, maka Allah subhaanahu wa ta’aala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan melapangkannya dari setiap kesempitan serta akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduganya.” (HR Abu Dawud 1297)
Sedangkan ketika menerima karunia, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan kita membaca sebagaimana hadits berikut:“Setiap orang yang diberi karunia Allah ta'aala lalu ia membaca ‘Alhamdulillah’, maka Allah ta’aala akan berikan yang lebih utama daripada apa yang telah ia terima.” (HR Ibnu Majah 3795)
Ya Allah, basahi lidah kami dengan mengingatMu selalu. Cerdaskan kami dalam mengajukan doa-doa kepada Engkau sesuai situasi dan kondisi kami masing-masing mengikuti teladan NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Sya’ban dan Ramadhan. Amin ya rabb...
Wallahu a'lam bish-shawab,
wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang beriman………
Ternyata Masyarakat Baduy Lebih modern dari Masyarakat Jakarta (1)
Sesaat memasuki kawasan Suku Baduy, terbayang suatu tempat yang sepi, primitive, tidak beradab, bahkan angker.itu yang tergambar ketika hari pertama kami dating ke suku ini. Saat itu matahari sudah muali malu menampakkan mukanya, jalan yang kami lalui sudah gelap karena pohon disekitar jalan itu sangat lebat, bamboo menjulang tinggi, terdengar pula aliran arus sungai yang seakan mengikuti kami. Hawa dingin mulai merasuk, walau terkikis panas suhu badan akibat lelah perjalanan dan peluh badan. Kumbang pohon pun nggak mau absen dari suara yang mengisi perjalanan ini. Sial!!!kandung kemihku sudah mulai penuh. Berat juga kalau dipaksakan jalan. Belum lagi desa kedua belum terlihat di mata. “pak, boleh kencing dulu nggak pak?” begitu tanyaku pada pemandu kami.
“boleh”, lega aku…”tapi harus ijin dulu sama penunggunya ya..?”
Yaelah.gini aja harus ijin. Mending aku ijin pada pemiliknya penunggu aja deh..
Memasuki kampong terdekat, suasana sungguh hening. Jarang tidak terdengar obrolan basa basi orang yang suka basi. Tidak ada ocehan yang remeh receh. Tunggu dulu, apa benar mereka tidak ramah? Jangan2 kami bias diapa2in nih.. (hehehehe kayak pilem aja). Dengan sigap pemandu kami menghentikan langkah di salah satu rumah penduduk. Rumah itu terbuat dari bambu. Berbentuk panggung, dengan alas dari bambu yang di belah, biasanya ini dipakai buat lincak (tempat santai) didaerahku. Gentengnya terbuat dari ijuk, dindingnya dari bambu yang diayam (gedhek), tanpa jendela,
biasanya bagian bawah digunakan buat kandang ayam atau sekedar sarang ayam yang lagi bertelur. Konsep kandang seperti ini juga sering diaplikasikan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat maupun Timur. Biasanya mereka memelihara babi atau kambing di bawah rumah mereka, sehingga kalau ternak mereka buang kotoran pas ada jamuan makan, mak nyus rasanya. Kembali ke Suku Baduy, kebetulan tempat yang kami datangi tidak digunakan buat ternak juga.
Di luar rumah kami duduk, sambil mengobrol dengan teman. Terdengar suara lirih pemandu kami sedang bercakap-cakap di dalam. Aku yakin mereka sudah sangat akrab, terdengar pula sedikit tawa di sertain kalimat mengejek diantara mereka. Entah apa bahasa mereka, maklum wong ndeso ga tahu bahasa sunda apalagi pakai kasar. Setelah beberapa saat, kami disuruh masuk rumah dan menikmati hidangan yang disuguhkan. Sebelumnya kami sempatkan buat mampir ke pasar untuk membeli bahan makanan yang akan kami makan sendiri.
Beberapa saat saya menganalisa, melihat, mengamati, mendengar dan menyimpulkan (kebolak-balik). Ternyata masyarakat disini mempunyai pemikiran yang bisa dibilang lebih modern dari masyarakat Jakarta. Pagi hari ayam jago berkokok, masyarakat Baduy begitu pula masyarakat Jakarta bangun pagi untuk menyambut dunianya masing2. Orang2 Baduy memulai pagi dengan senyum, dengan memandang alam sebagai sahabat, memandang sekitar sebagai keluarga dan partner. Orang2 Jakarta bangun pagi dengan pesimis, I hate Monday – Friday, malas ke kantor, memandang sekitar yang sudah penat dan berjubel. Masyarakat Baduy pergi ke tempat kerjanya dengan hati yang riang, mengormati orang sekitar dan mematuhi hukum yang berlaku. Masyarakat Jakarta berangkat ke kantor dengan tergesa2, tidak menghormati orang yang dilewati, saling srempet, sering jgua melanggar lampu lalu lintas. Ketika di jalan masyarakat Baduy berjalan sesuai yang telah di bangun alam (berasal dari aliran air), mereka tidak berani membuat jalan sendiri Karena itu tidak menghormati alam dan leluhur. Di Jakarta!!!jalan sudah dibikin bagus2, aspal, landai, mereka masih merebut jalannya pejalan kaki. Trotoar masih di hajar, tiap pagi aku jalan kaki jadi ga nyaman. Binatang di kawasan hutan baduy pun sangat di hormati, mereka tidak mau membunuh binatang kalau tidak buat makan. Bahkan pernah ada seorang teman yang kegigit kalajengking, pas mau dibunuh itu binatang, tidak disangka mereka nglarang dan Cuma mindahan kalajengking itu ke tempat lain supaya tidak keinjak….
(bersambung)
“boleh”, lega aku…”tapi harus ijin dulu sama penunggunya ya..?”
Yaelah.gini aja harus ijin. Mending aku ijin pada pemiliknya penunggu aja deh..
Memasuki kampong terdekat, suasana sungguh hening. Jarang tidak terdengar obrolan basa basi orang yang suka basi. Tidak ada ocehan yang remeh receh. Tunggu dulu, apa benar mereka tidak ramah? Jangan2 kami bias diapa2in nih.. (hehehehe kayak pilem aja). Dengan sigap pemandu kami menghentikan langkah di salah satu rumah penduduk. Rumah itu terbuat dari bambu. Berbentuk panggung, dengan alas dari bambu yang di belah, biasanya ini dipakai buat lincak (tempat santai) didaerahku. Gentengnya terbuat dari ijuk, dindingnya dari bambu yang diayam (gedhek), tanpa jendela,
biasanya bagian bawah digunakan buat kandang ayam atau sekedar sarang ayam yang lagi bertelur. Konsep kandang seperti ini juga sering diaplikasikan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat maupun Timur. Biasanya mereka memelihara babi atau kambing di bawah rumah mereka, sehingga kalau ternak mereka buang kotoran pas ada jamuan makan, mak nyus rasanya. Kembali ke Suku Baduy, kebetulan tempat yang kami datangi tidak digunakan buat ternak juga.
Di luar rumah kami duduk, sambil mengobrol dengan teman. Terdengar suara lirih pemandu kami sedang bercakap-cakap di dalam. Aku yakin mereka sudah sangat akrab, terdengar pula sedikit tawa di sertain kalimat mengejek diantara mereka. Entah apa bahasa mereka, maklum wong ndeso ga tahu bahasa sunda apalagi pakai kasar. Setelah beberapa saat, kami disuruh masuk rumah dan menikmati hidangan yang disuguhkan. Sebelumnya kami sempatkan buat mampir ke pasar untuk membeli bahan makanan yang akan kami makan sendiri.
Beberapa saat saya menganalisa, melihat, mengamati, mendengar dan menyimpulkan (kebolak-balik). Ternyata masyarakat disini mempunyai pemikiran yang bisa dibilang lebih modern dari masyarakat Jakarta. Pagi hari ayam jago berkokok, masyarakat Baduy begitu pula masyarakat Jakarta bangun pagi untuk menyambut dunianya masing2. Orang2 Baduy memulai pagi dengan senyum, dengan memandang alam sebagai sahabat, memandang sekitar sebagai keluarga dan partner. Orang2 Jakarta bangun pagi dengan pesimis, I hate Monday – Friday, malas ke kantor, memandang sekitar yang sudah penat dan berjubel. Masyarakat Baduy pergi ke tempat kerjanya dengan hati yang riang, mengormati orang sekitar dan mematuhi hukum yang berlaku. Masyarakat Jakarta berangkat ke kantor dengan tergesa2, tidak menghormati orang yang dilewati, saling srempet, sering jgua melanggar lampu lalu lintas. Ketika di jalan masyarakat Baduy berjalan sesuai yang telah di bangun alam (berasal dari aliran air), mereka tidak berani membuat jalan sendiri Karena itu tidak menghormati alam dan leluhur. Di Jakarta!!!jalan sudah dibikin bagus2, aspal, landai, mereka masih merebut jalannya pejalan kaki. Trotoar masih di hajar, tiap pagi aku jalan kaki jadi ga nyaman. Binatang di kawasan hutan baduy pun sangat di hormati, mereka tidak mau membunuh binatang kalau tidak buat makan. Bahkan pernah ada seorang teman yang kegigit kalajengking, pas mau dibunuh itu binatang, tidak disangka mereka nglarang dan Cuma mindahan kalajengking itu ke tempat lain supaya tidak keinjak….
(bersambung)
Senin, 25 Agustus 2008
Benarkah Adam AS lahir di Baduy?
Pak Idik itulah sosok orang Baduy yang kami wawancara seputar seluk beluk suku Baduy Dalam maupun Luar. Beliau merupakan kepala RT Kampung Gajeboh suku Baduy Luar. Orangnya ramah, sederhana (karena itu tuntutan agamanya), dan selalu patuh apa yang di katakan pemimpinnya. Kampong Gajeboh merupakan kampong ke-empat bila kita masuk ke suku Baduy. Di dalam suku Baduy sendiri terdiri dari 70 kampung Baduy Luar dan 3 kampung Baduy Dalam. Rata2 kampung yang ada di dalam desa Kanekes, kec Ciboleger, Kab lebak ini berdiri di pinggir2 aliran sungai. Seperti kebiasaan orang jaman dahulu yang mendirikan tempat pemukiman di pinggir2 sungai.
System pemerintahan dalam suku Baduy boleh dikatakan rapi. Mereka dipimpin oleh 3 kepu’unan (3 Kampung Baduy dalam) Cibeo, Cikeurta Warna, Cikeusik. Pu’un merupakan pemimpin tertinggi di bidang agama dan adat. Mereka membawahai masing2 beberapa kampung. Pembagian kampung belum jelas menurut saya, serta hubungan antar pu’un n kebijakannya masih menjadi PR buat saya. Pu’un juga membawahi 1 Jaro (yang bisa disebut lurah, jawara, kepala pemerintahan, kepala keamanan). Jaro ini bertanggung jawab terhadap ketertiban, penjagaan keamanan, palang pintu masuk, serta penjagaan dan pemurnian ajaran mereka dari budaya asing termasuk semua budaya selain budaya mereka.
Sunda Wiwitan itulah agama yang mereka anut. Bagi mereka, mematuhi adat adalah beribadah. Sekilas tentang asal muasal Sunda Wiwitan. Jaman dahulu sang Pangeran (Allah) menciptakan Nabi pertama yang di beri nama Adam. Suku baduy percaya, Adam ini mempunyai kekuatan misterius, dapat berpindah tempat dengan cepat, kebal terhadap senjata dan mampu menyembuhkan orang. Kebetulan adam ini di lahirkan di kawasan bukit Baduy yang sekarang ditinggali oleh suku Baduy. Adam ini melahirkan anak cucunya disini. Beliau mengajarkan agama yang dibawa dari TUhan dengan nama Sunda WIwitan. Bentuk agama ini menurut saya merupakan aliran kepercayaan. Tidak ada ritual khusus dari agama ini. Hanya saja ada semacam ritual yang di beri nama Kawalu. Kawalu ini merupakan bentuk lain puasa, tetapi hanya membatasai hal2 yang di sukai saja, seperti : rokok, makan ayam, ikan dari beli sayur, dll. Mereka hanya makan nasi yang dimasak dari batang bambu dibakar dan lauknya dari ikan hasil tangkapan mereka sendiri. Pelaksanaan Kawalu bersifat optional. Ada yang 1 hari dalam 1 bulan, ada pula yang 3 hari dalam 3 bulan. Pas perayaan Kawalu ini, biasanya suku Baduy tidak mau menerima tamu dari Luar Suku.
Merek juga mempercayai keberadaan agama Islam. Bagi mereka agama Islam merupakan saudara tua dari agama Sunda Wiwitan. Setelah meciptakan Adam dan agama Sunda Wiwitan di tanah Baduy, Tuhan mereka menciptakan Nabi Muhammad di Mekah dengan ajarannya Islam. Mereka tidak memandang adanya kehadiran agama selain Sunda Wiwitan dan Islam. Bagi mereka agama Hindu, Budha, Kristen, dan katholik Cuma agama ciptaan manusia saja. Karena itu mereka tidak menolak adanya bangunan KUA di dalama kawasan suku Baduy. Yang orang luar menyebutnya Baduy Islam.
System pemerintahan dalam suku Baduy boleh dikatakan rapi. Mereka dipimpin oleh 3 kepu’unan (3 Kampung Baduy dalam) Cibeo, Cikeurta Warna, Cikeusik. Pu’un merupakan pemimpin tertinggi di bidang agama dan adat. Mereka membawahai masing2 beberapa kampung. Pembagian kampung belum jelas menurut saya, serta hubungan antar pu’un n kebijakannya masih menjadi PR buat saya. Pu’un juga membawahi 1 Jaro (yang bisa disebut lurah, jawara, kepala pemerintahan, kepala keamanan). Jaro ini bertanggung jawab terhadap ketertiban, penjagaan keamanan, palang pintu masuk, serta penjagaan dan pemurnian ajaran mereka dari budaya asing termasuk semua budaya selain budaya mereka.
Sunda Wiwitan itulah agama yang mereka anut. Bagi mereka, mematuhi adat adalah beribadah. Sekilas tentang asal muasal Sunda Wiwitan. Jaman dahulu sang Pangeran (Allah) menciptakan Nabi pertama yang di beri nama Adam. Suku baduy percaya, Adam ini mempunyai kekuatan misterius, dapat berpindah tempat dengan cepat, kebal terhadap senjata dan mampu menyembuhkan orang. Kebetulan adam ini di lahirkan di kawasan bukit Baduy yang sekarang ditinggali oleh suku Baduy. Adam ini melahirkan anak cucunya disini. Beliau mengajarkan agama yang dibawa dari TUhan dengan nama Sunda WIwitan. Bentuk agama ini menurut saya merupakan aliran kepercayaan. Tidak ada ritual khusus dari agama ini. Hanya saja ada semacam ritual yang di beri nama Kawalu. Kawalu ini merupakan bentuk lain puasa, tetapi hanya membatasai hal2 yang di sukai saja, seperti : rokok, makan ayam, ikan dari beli sayur, dll. Mereka hanya makan nasi yang dimasak dari batang bambu dibakar dan lauknya dari ikan hasil tangkapan mereka sendiri. Pelaksanaan Kawalu bersifat optional. Ada yang 1 hari dalam 1 bulan, ada pula yang 3 hari dalam 3 bulan. Pas perayaan Kawalu ini, biasanya suku Baduy tidak mau menerima tamu dari Luar Suku.
Merek juga mempercayai keberadaan agama Islam. Bagi mereka agama Islam merupakan saudara tua dari agama Sunda Wiwitan. Setelah meciptakan Adam dan agama Sunda Wiwitan di tanah Baduy, Tuhan mereka menciptakan Nabi Muhammad di Mekah dengan ajarannya Islam. Mereka tidak memandang adanya kehadiran agama selain Sunda Wiwitan dan Islam. Bagi mereka agama Hindu, Budha, Kristen, dan katholik Cuma agama ciptaan manusia saja. Karena itu mereka tidak menolak adanya bangunan KUA di dalama kawasan suku Baduy. Yang orang luar menyebutnya Baduy Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)