Senin, 15 September 2008

Ujian itu Harus Disyukuri

Ditolak!!! Sering juga sih aku merasakan hal ini. Bukan di tolak cintanya lho… aku tipe orang yang ga gampang nyerah, masih ada hari esok, bulan depan, tahun yang akan datang. Kata orang momentnya tidak tepat, ya terang aja mereka bilang gitu la wong udah di tolak. Coba kalau diterima, ‘momentnya tepat banget tuh’. Jadi inget teori jus mangga, katanya bagi cewek, seorang cowok itu bagai sebuah minuman. Si cewek belum tahu rasa minuman itu, disini aku ibaratkan sebagai jus mangga. Jangan berikan semua jus yang ada digelasmu kepada cewek itu. Soalnya kalau jus itu telah habis, dia akan meminta atau mencari gelas lain untuk diminum. Well, solusinya berikan sedikit demi sedikit. Segera tarik gelas itu bila dia mulai mau menghabiskannya. Biarkan dia penasaran. Tetep aja aku masih sedih…

Hujan!!! Hari begini terik?, sekitar jam 11.10 minggu kemaren. begitu deras, tidak biasanya. Jemuranku!!! Padahal tadi pagi aku baru jemur pakaian buat seminggu. Anginnya mengarah ke kamarku. Belum pernah terjadi semenjak aku kos disini, airnya masuk ke kamar. Karpet, jemuran, tas, buku, helm, sepatu kerja semuanya basah deh. Untung komputerku masih selamat. Lima menit doang, ternyata dalam lima menit saja bisa terjadi hujan yang bisa membasahi seluruh barang milikku. Maha Besar Allah.
Sms itu, “Sorry nang, ternyata ga prospek”. Bagusss!!!!! Lengkap sudah dalam sepuluh menit. Batik yang aku titipkan ke temenku sama sekali tidak ada yang laku, ah aku tidak mau suudzon. Padahal batik ini merupakan batik yang kualitasnya bagus. Lagian selain temenku yang ini, semuanya laku kok. Dia sudah lama membawa batikku, selama itu pula tidak memberi kabar. Padahal aku sangat berharap dengan penjualan batik ini, yang katanya sangat prospek. Aku sudah cukup banyak mengeluarkan waktu, biaya, tenaga untuk ini. Rejeki ga bakalan ketukar. Semoga semua itu adalah ujian bagiku. Ah, bukankah hanya orang-orang yang beriman saja yang di beri ujian? Jadi ingat arti surat Al-Ankabut ayat 1-3 :
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Jadi ingat sebuah buku yang berjudul “Seni Menikmati Ujian” Hani Saad Ghunaim terbitan Agwam. Disitu dijelaskan bahwa ujian mempunyai beberapa tujuan;
1. Tingkat Penyeleksian
Maksudnya supaya kita mengetahui dengan pengetahuan yang yakin bahwa ujian adalah bentuk pengetesan dan penyeleksian, serta ujian merupakan salah satu derajat agung dari sekian derajat kenabian. Selain itu, ujian juga merupakan bukti keridhaan Allah kepada hamba-Nya yang beriman, bukan bukti kemurkaan-Nya, sebagaimana yang disangka oleh sebagian manusia.
2. Tingkat Penyucian
Allah dengan rahmat dan kemuliaan-Nya menguji salah seorang dari kita untuk menyucikannya. Seperti sabda Rasulullah SAW : “ tidaklah seorang muslim tertimpa rasa letih, penyakit, rasa gundah, sedih, rasa sakit, kegagalan, sampai duri yang mengenai dirinya, melainkan dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya”.
Pernah Umar bin Al-Khattab melewati 40 hari tanpa ada ujian di dalamnya, dia berkata, “ ini merupakan bentuk kemurkaan Allah kepada diriku.”
3. Tingkat pendekatan, penghormatan, dan peninggian derajat
Tingkat ini merupakan buah dari penyeleksian dan penyucian. Maka, bergembiralah dan ketahuilah wahai orang yang diuji bahwa Allah mencintai anda. Lalu siapakah yang membeci anda? Jika Allah telah mencintai anda, maka kecintaan tersebut akan diikuti oleh kecintaan Jibril, dan kecintaan malaikat lainnya.
Ah, aku ga akan mengeluh. Aku yakin Allah memberikan ujian kepada siapapun pasti sesuai dengan kemampuan orang tersebut. Jadi jangan pernah bilang ‘ini di luar kemampuanku’ ya…? Mengeluh? Aku malu kalau mengeluh. Malu kepada Rasulullah SAW yang begitu banyak mendapat ujian dari Allah, tetapi masih bisa tersenyum dan bersyukur. Malu kepada Nabi Nuh yang diberikan ujian banjir bandang sebesar itu. Malu kepada Nabi Ibrahim, yang di uji buat menyembelih anaknya. Malu kepada Nabi Yusuf yang di uji dengan ketampananNya. Malu kepada Nabi Sulaiman yang diberikan harta yang melimpah yang karena itu pernah beliau lupa tidak mengerjakan sholat gara2 asyik melihat 900 ekor kuda dari 1.000 ekor kuda miliknya. Malu kepada Nabi Musa yang di kejar2 Fir’aun.
Terima kasih Allah untuk ujian yang engkau berikan.


Tidak ada komentar: