Jumat, 19 September 2008

07.29.58

Nyaris telat, sebenarnya udah biasa aku nyaris telat. Bahkan bisa dibilang aku biasa telat. Akan tetapi nyaris telatku pagi tadi di sebabkan karena serentetan kejadian yang kalau orang bilang ‘kebetulan’. Selesai berbuka puasa kemaren, aku di ajakin temenku nyari makan nasi goreng di daerah jalan Mampang. “kata ulpha, nasi goreng disini lumayan enak lho…”bikin aku tertarik aja. Ya udah deh, ga pake lama. Cabuttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!! Dengan gesit aku pake spinku. Di perempatan ragunan yang jalanannya rusak pun tetap aku kebut spin itu. Walaupun aku tahu roda-roda spinku sangat kecil untuk bisa melewati jalanan tersebut tetap saja aku paksakan. Mumpung perempatannya belum merah.

Sepanjang jalan arah Mampang, melihat ke kanan ke kiri. Aha!! Itu dia warungnya. “Magelangan dua”aku langsung angkat bicara karena perutku masih keroncongan. Maklum orang ndeso kalau belum nasi belum kenyang. Nasinya agak lembek sekilas. Tidak seenak di Jape Methe, apalagi Mbah Surip. Agak asin, temenku sudah habis melahapnya. Wah aku ga bisa meneruskannya nih, karena terjadi pemberontakan dari lambungku. Aku ga boleh menzolimi lambungku.

Dua piring sama dua gelas teh manis seharga 24.000. lega, kenyang, bisa pulang dan tidur nyenyak. Astaga!!ban belakangku kempes. Sekuat tenaga aku dorong motorku untuk mencari tukang tambal ban. Alhamdulillah, tukang tambalnya tidak jauh2 banget. Lumayan menghabiskan energy seperempat piring nasi gorengku. Setelah beberapa lama banku selesai juga ditambal. 7.500 itu harga yang pantas untuk kenyamanan pulang.

Sampai di kos aku sempatkan menelpon seorang teman. Agak berapa lama juga. Aku ga tahu apakah ini sebabnya, tetapi ketika tengah malam aku terbangun karena lengan tangan kananku nyeri bukan main. Saking nyerinya aku sudah tidak bisa lagi tidur. Aku main game sampai waktu saur. Aku meminta tolong mbak kos ku buat memanggil tukang urut atau semacamnya. Aku sudah tidak tahan lagi. Selain itu, badanku terasa capek semua, sakit semua, dan leherku susah sekali buat nengok. Sangat kaku, sehingga harus hati2 banget dalam bergerak.

Aku di urut dari jam 5 an samapai jam 6 lewat. Sakit banget!!! Seluruh badanku dipijit, lebih tepatnya diplintir-plintir. Mbah yang mengurutku sudah sepuh, tetapi tenaganya kuat banget. Beliau menceritakan anak2nya, cucunya dan semua keluarganya. Entah hanya untuk berbagi cerita, pengusir ngantuk atau agar aku lupa akan rasa sakitku ini. Setelah 1 jam lebih di siksa, hehehhe karena emang rasanya kayak orang dipukuli. Aku kembali ke kamar dan berbaring sebentar. E malah aku ketiduran, mungkin badanku merasa nyaman kali.jam 7.05 aku belum setrika, aku ambil setrikaan, baju, celana panjang, dengan jurus membabi buta akhirnya selesai juga dalam bersetrika ria.

Ah ngapain aku mandi. Jam 7.15 aku buang air, cuci muka n gosok gigi. 7.23 aku selesai, eh ternyata temenku yang semalam baru bangun, terus mandi. Aku langsung kabur duluan membawa motorku. Eitt “danang, bantuin bapak mengangkat meja ini” yaelah dalam hati ini jam berapa?dasar bapak kosku ini, tapi ga papa deh ladang amal. Setelah acara angkat mengangkat selesai. Aku ambil motor beneran dan masih kulihat temenku baru turun. Kami berdua ngetrek ria mengejar absen. Sesekali aku Tanya posisi jam. Bukan apa2 sih, sekedar penghibur diri walaupun aku sendiri ga yakin bakal sampai tepat waktu. Kantorku sih sebenarnya ga jauh. Cuma d seberang jalan tol, tetapi untuk kesana harus muter dulu dan melewati area yang rawan macet.

Halaman kantor sudah kelihatan, langsung parkir motor tepat di depan kantor dan lari ke tangga atas lantai 2. Di depanku ada dua orang yang antri pake sidik jari. Mereka absen dengan lancar jadi tidak menghambat yang dibelakang. Aku julurkan jari tengah ke mesin scanner jari, 07.29.58. itulah angka yang tertera dimesin tersebut. Kira2 jam 7 menit ke 29 detik ke 58. Hehehe 2 detik lagi aku terlambat. Sungguh sangat berarti itungan detik itu.


1 komentar:

Suliwa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.