Jalan sudah sangat padat dengan pengendara. Bahkan untuk sekedar mepet ke trotoar aja aku sangat kesusahan mencari celah. Mobil-mobil pribadi ikutan merangsek seakan berebut jatah secuil tempat untuk roda-roda mereka. Teriakan klakson, terdengar disana sini. Sumpah serapah pun tidak mau ketinggalan. Huh… Alhamdulillah ya Allah, semoga ini bisa menambah kesabaranku. Bau amis masuk menembus helm full faceku. Pasar induk Kramat Jati, itu yang terpampang di plang kiri jalan. Arah kendaraan semakin ga karuan, ada yang masuk, ada yang parkir, ada yang keluar, ada yang acuh, ada yang menyapa penumpang. Kapan sih aku bisa bernapas lega tanpa kepulan hitam knalpot mengenai tubuhku, kapan sih aku bisa memacu kencang tanpa berdecit roda-roda motorku karena tuas rem. Kapan sih aku bisa berkendara dengan tenang tanpa panik rebutan jalan. Huh….
Pusat Grosir Cilitan tampak di seberang jalan bagian kiri perempatan. Lampu lalu lintas telah malas menunjukkan merahnya. Aku nyalakan lampu tanda ke kanan. Sama aja…. Disini lebih parah. Angkot jurusan Halim ngetem lebih dari setengah jalan, kendaraan dinas pemadam kebakaran berjalan malas di tengah, pejalan kaki seakan tidak mau dan tidak bisa disalahkan telah mengambil jalur motor. Celaka !!! Honda jazz warna biru yang biasa parkir di depan tempat praktek dokter gigiku tidak ada. Semoga hari ini tidak tutup. “Mas, tunggu sebentar ya….?Ibu Dokternya baru dalam perjalanan” asistennya mencoba menenangkanku.
Lima belas menit lagi sudah adzan maghrib, tetapi tanda-tanda kedatangan Dokter Gigiku belum nampak. Tidak apa apa aku pernah lebih parah kok, menunggu Dokter ini dari jam 17.00 samapai jam 20.00. bukan… bukan karena beliau datang terlambat waktu itu, karena antrian di depanku memaksaku menunggunya lama. Tidak biasanya Bu Dokter datang terlambat. Ah, Jakarta… Mungkin mobilnya terjebak macet, atau mungkin beliau masih ada kerjaan di puskesmas. Harusnya 40 menit yang lalu tempat praktek ini sudah buka, tapi untunglah jadi aku bisa melanjutkan membaca buku Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar.
Honda Jazz itu dengan tergesa-gesa parkir di depan tempat praktek. “Sore bu… macet ya…?”. “ iya nih…silakan masuk…” aku heran, kenapa Bu Dokter ini bisa seramah ini ya… aduh aku telah salah menilai orang Bima. Sepuluh menit lagi buka puasa, aku disuruh langsung aja berbaring. Setiap tanggal muda tiap bulan setelah gajian aku harus mengganti karet-karet kawat gigiku. Lumayanlah tinggal menganga gigi udah bersih semua. Satu persatu kawat gigiku berubah warnanya, sekarang karetnya udah ga kelihatan (transparan). Adzan maghrib mengumandang juga, kawat gigiku beres mengikuti.
Kue bolu tersaji di meja praktek, segelas sirup dingin sangat menggoda kerongkonganku, kolak cendol sibuk di siapkan sang asisten. “kolaknya mas?orang jawa suka kolak kan?”. “iya bu soalnya manis kayak orangnya…”. “hehehe, dasar orang jawa, pede juga ya…?”. “dari pada minder, bu!”. “sebenarnya kolaknya manis bukan karena gulanya, tetapi karena makan kolaknya sambil ngeliatin saya mas...”. Wew!!!! Narsis juga nih Dokter. Emang sih Dokter yang satu ini lumayan manis. Beliau numpang lahir di Bima, Nusa Tenggara Timur. Propinsi yang eksotik, danau tiga warna di kawasan gunung kelimutu, keindahan bawah air di pulau riung, sampai kesederhanaan masyarakat desa Bena. Jadi kepingin kesana. “o ya mas, ntar kalau kesana saya di ajak ya…. Pengen deh kesana lagi. Disana indah banget, saya mau kok jadi pemandu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar