Jumat, 29 Agustus 2008

Ternyata Masyarakat Baduy Lebih modern dari Masyarakat Jakarta (1)

Sesaat memasuki kawasan Suku Baduy, terbayang suatu tempat yang sepi, primitive, tidak beradab, bahkan angker.itu yang tergambar ketika hari pertama kami dating ke suku ini. Saat itu matahari sudah muali malu menampakkan mukanya, jalan yang kami lalui sudah gelap karena pohon disekitar jalan itu sangat lebat, bamboo menjulang tinggi, terdengar pula aliran arus sungai yang seakan mengikuti kami. Hawa dingin mulai merasuk, walau terkikis panas suhu badan akibat lelah perjalanan dan peluh badan. Kumbang pohon pun nggak mau absen dari suara yang mengisi perjalanan ini. Sial!!!kandung kemihku sudah mulai penuh. Berat juga kalau dipaksakan jalan. Belum lagi desa kedua belum terlihat di mata. “pak, boleh kencing dulu nggak pak?” begitu tanyaku pada pemandu kami.
“boleh”, lega aku…”tapi harus ijin dulu sama penunggunya ya..?”
Yaelah.gini aja harus ijin. Mending aku ijin pada pemiliknya penunggu aja deh..
Memasuki kampong terdekat, suasana sungguh hening. Jarang tidak terdengar obrolan basa basi orang yang suka basi. Tidak ada ocehan yang remeh receh. Tunggu dulu, apa benar mereka tidak ramah? Jangan2 kami bias diapa2in nih.. (hehehehe kayak pilem aja). Dengan sigap pemandu kami menghentikan langkah di salah satu rumah penduduk. Rumah itu terbuat dari bambu. Berbentuk panggung, dengan alas dari bambu yang di belah, biasanya ini dipakai buat lincak (tempat santai) didaerahku. Gentengnya terbuat dari ijuk, dindingnya dari bambu yang diayam (gedhek), tanpa jendela,

biasanya bagian bawah digunakan buat kandang ayam atau sekedar sarang ayam yang lagi bertelur. Konsep kandang seperti ini juga sering diaplikasikan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat maupun Timur. Biasanya mereka memelihara babi atau kambing di bawah rumah mereka, sehingga kalau ternak mereka buang kotoran pas ada jamuan makan, mak nyus rasanya. Kembali ke Suku Baduy, kebetulan tempat yang kami datangi tidak digunakan buat ternak juga.

Di luar rumah kami duduk, sambil mengobrol dengan teman. Terdengar suara lirih pemandu kami sedang bercakap-cakap di dalam. Aku yakin mereka sudah sangat akrab, terdengar pula sedikit tawa di sertain kalimat mengejek diantara mereka. Entah apa bahasa mereka, maklum wong ndeso ga tahu bahasa sunda apalagi pakai kasar. Setelah beberapa saat, kami disuruh masuk rumah dan menikmati hidangan yang disuguhkan. Sebelumnya kami sempatkan buat mampir ke pasar untuk membeli bahan makanan yang akan kami makan sendiri.

Beberapa saat saya menganalisa, melihat, mengamati, mendengar dan menyimpulkan (kebolak-balik). Ternyata masyarakat disini mempunyai pemikiran yang bisa dibilang lebih modern dari masyarakat Jakarta. Pagi hari ayam jago berkokok, masyarakat Baduy begitu pula masyarakat Jakarta bangun pagi untuk menyambut dunianya masing2. Orang2 Baduy memulai pagi dengan senyum, dengan memandang alam sebagai sahabat, memandang sekitar sebagai keluarga dan partner. Orang2 Jakarta bangun pagi dengan pesimis, I hate Monday – Friday, malas ke kantor, memandang sekitar yang sudah penat dan berjubel. Masyarakat Baduy pergi ke tempat kerjanya dengan hati yang riang, mengormati orang sekitar dan mematuhi hukum yang berlaku. Masyarakat Jakarta berangkat ke kantor dengan tergesa2, tidak menghormati orang yang dilewati, saling srempet, sering jgua melanggar lampu lalu lintas. Ketika di jalan masyarakat Baduy berjalan sesuai yang telah di bangun alam (berasal dari aliran air), mereka tidak berani membuat jalan sendiri Karena itu tidak menghormati alam dan leluhur. Di Jakarta!!!jalan sudah dibikin bagus2, aspal, landai, mereka masih merebut jalannya pejalan kaki. Trotoar masih di hajar, tiap pagi aku jalan kaki jadi ga nyaman. Binatang di kawasan hutan baduy pun sangat di hormati, mereka tidak mau membunuh binatang kalau tidak buat makan. Bahkan pernah ada seorang teman yang kegigit kalajengking, pas mau dibunuh itu binatang, tidak disangka mereka nglarang dan Cuma mindahan kalajengking itu ke tempat lain supaya tidak keinjak….
(bersambung)

1 komentar:

udin mengatakan...

sangar tenan yo masyarakat baduy kuwi.. ashari jare pengen pindah mrono. meh buka cabang jare.. cabang NPWP. hahahaha...